Mengenai Saya
Blog Archive
-
▼
2010
(12)
-
▼
Desember
(12)
- Infeksi pada Lansia. Trisula
- Picture (02)
- Picture (01)
- Diabetes, Type 1, Type 2, Glucose, Insulin
- Osteoporosis Video
- Waspadai Gangguan Saraf Otak pada Lansia
- Empat Belas Masalah Lansia
- Osteoporosis Pada Lansia
- Gangguan Masalah Mental pada Lansia Dapat Dicegah
- “21 NO” Bagi Lansia
- Lansia Rawan Diabetes dan Stroke
- KATARAK
-
▼
Desember
(12)
Pengikut
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Senin, 20 Desember 2010
Waspadai Gangguan Saraf Otak pada Lansia
New York, Sabtu – Sebagian besar orang lanjut usia atau lansia mengalami penyakit saraf otak yang bisa meningkatkan risiko
dimensia (kepikunan). Untuk itu, gangguan saraf otak harus dicegah dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, pola hidup yang seimbang, dan menerapkan gaya hidup sehat.
Sebagai bagian dari proyek jangka panjang mengenai memori dan penuaan, Universitas Rush di Chicago, Amerika Serikat, sebagaimana dipublikasikan dalam Jurnal Neurologi menyebutkan, para peneliti mengevaluasi spektrum abnormal yang ditemukan pada otak 141 orang berusia lanjut dengan atau tanpa gejala klinis dimensia. Saat meninggal, hanya 20 orang atau sekitar 14,2 persen yang bebas dari penyakit saraf otak.
Menurut dr Julie A Schneider dari Pusat Kedokteran Universitas Rush, Chicago, beserta timnya, sebagaimana dikutip Reuters Health, Sabtu (29/12) di New York, Amerika Serikat, mayoritas lansia dengan dimensia, yang ditandai dengan gangguan memori dan kemampuan kognitif lain, memiliki lebih dari satu tipe patologi pada otak yang mengalami perburukan.
“Gangguan saraf otak ini umumnya berupa gejala penyakit alzheimer dan stroke, diikuti penyakit terkait parkinson,” ujar Schneider.
Para lansia tanpa dimensia juga memiliki penyakit saraf otak, seperti alzheimer dan gangguan saraf lain. Lansia dengan lebih dari satu gangguan saraf otak secara signifikan meningkatkan gejala dimensia.
“Para lansia sering kali dapat mengatasi satu patologi pada otak mereka, tetapi beban lebih dari satu patologi bisa menyebabkan mereka menderita dimensia,” kata Schneider.
Untuk mengurangi risiko dimensia, perlu upaya pencegahan alzheimer dan penyakit saraf otak lain seperti stroke dan faktor risiko stroke, misalnya tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, merokok, dan obesitas.
Dalam kaitan dengan itu, pola hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan ke dokter menjadi sesuatu yang tak bisa diabaikan para lansia. (EVY)
Empat Belas Masalah Lansia
Untuk dapat menikmati masa tua yang bahagia, agar dapat mengurangi bahkan menghindari Empat Belas Masalah Lansia dimaksud, diperlukan paling sedikit tiga syarat, yaitu :memiliki uang yang diperlukan yang paling sedikit dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, memiliki tempat tinggal yang layak, mempunyai peranan di dalam menjalani masa tuanya.
Masalah pada lanjut usia (lansia) pada umumnya berbeda dengan pada dewasa muda, karena masalah pada lansia merupakan gabungan dari kelainan-kelainan yang timbul akibat proses menua. Proses ini menyebabkan menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri serta mempertahankan struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap penyakit dan memperbaiki kerusakan yang diakibatkannya. Demikian kata dr Pirma Siburian Sp PD, pemerhati masalah kesehatan lansia.
Menurut Robert Kane dan Joseph Ouslander , penulis buku “ Essentials of Clinical Geriatrics” , Permasalahan Lansia sering disebut dengan istilah 14 I.
Keempat belas I tersebut adalah : Immobility, Instability, Incontinence, Intellectual impairment, Infection, Impairment of vision and hearing, taste, smell, communication, convalescence, skin integrity, Impaction, Isolation, Inanition, Impecunity, Iatrogenesis, Insomnia, Immune deficiency, and Impotence.
1. Immobility (kurang bergerak): gangguan fisik, jiwa, dan faktor lingkungan dapat menyebabkan lansia kurang bergerak. Penyebab yang paling sering adalah gangguan tulang, sendi dan otot, gangguan saraf, dan penyakit jantung dan pembuluh darah.
2. Instability (berdiri dan berjalan tidak stabil dan mudah jatuh). Akibat jatuh pada lansia pada umumnya adalah kerusakan bahagian tertentu dari tubuh yang mengakibatkan rasa sakit, seperti patah tulang, cedera pada kepala.
2. Instability (berdiri dan berjalan tidak stabil dan mudah jatuh). Akibat jatuh pada lansia pada umumnya adalah kerusakan bahagian tertentu dari tubuh yang mengakibatkan rasa sakit, seperti patah tulang, cedera pada kepala.
Penyebab instabilitas dapat berupa faktor intrinsic, hal-hal yang berkaitan dengan keadaan fisik tubuh penderita karena proses menua; dan faktor ekstrinsik yang berasal dari luar tubuh seperti obat-obat tertentu dan faktor lingkungan.
3. Incontinence (beser buang air senil). Keluarnya air seni tanpa disadari, semakin banyak dan sering, mengakibatkan masalah kesehatan atau lingkungan, khususnya lingkungan keluarga.. Untuk menghindari ini, lansia sering mengurangi minum. Upaya ini justru menyebabkan lansia kekurangan cairan tubuh dan juga berkurangnya kemampuan kandung kemih dalam menjalankan fungsinya.
4. Intellectual impairment (gangguan intelektual/dementia). Gangguan intelektual merupakan kumpulan gejala klinik yang meliputi gangguan fungsi intelektual dan ingatan yang cukup berat.
Kejadian ini meningkat dengan cepat mulai usia 60 sampai 85 tahun atau lebih, yaitu kurang dari 5 % lansia yang berusia 60-74 tahun mengalami dementia (kepikunan berat) sedangkan pada usia setelah 85 tahun kejadian ini meningkat mendekati 50 %. Salah satu hal yang dapat menyebabkan gangguan interlektual adalah depresi.
5. Infection (infeksi). Kekurangan gizi, kekebalan tubuh:yang menurun adalah penyebab utama lansia mudah mendapat penyakit infeksi . Selain itu berkurangnya fungsi berbagai organ tubuh, terdapatnya beberapa penyakit sekaligus (komorbiditas) yang menyebabkan daya tahan tubuh yang sangat berkurang, faktor lingkungan, jumlah dan keganasan kuman akan mempermudah tubuh mengalami infeksi.
4. Intellectual impairment (gangguan intelektual/dementia). Gangguan intelektual merupakan kumpulan gejala klinik yang meliputi gangguan fungsi intelektual dan ingatan yang cukup berat.
Kejadian ini meningkat dengan cepat mulai usia 60 sampai 85 tahun atau lebih, yaitu kurang dari 5 % lansia yang berusia 60-74 tahun mengalami dementia (kepikunan berat) sedangkan pada usia setelah 85 tahun kejadian ini meningkat mendekati 50 %. Salah satu hal yang dapat menyebabkan gangguan interlektual adalah depresi.
5. Infection (infeksi). Kekurangan gizi, kekebalan tubuh:yang menurun adalah penyebab utama lansia mudah mendapat penyakit infeksi . Selain itu berkurangnya fungsi berbagai organ tubuh, terdapatnya beberapa penyakit sekaligus (komorbiditas) yang menyebabkan daya tahan tubuh yang sangat berkurang, faktor lingkungan, jumlah dan keganasan kuman akan mempermudah tubuh mengalami infeksi.
6. Impairment of vision and hearing, taste, smell, communication, convalescence, skin integrity (gangguan pancaindera, komunikasi, daya pulih, dan kulit). Akibat proses menua semua fungsi pancaindera dan otak berkurang. Demikian juga gangguan pada saraf dan otot-otot yang digunakan untuk berbicara dapat menyebabkn terganggunya komunikasi, daya pulih terhadap penyakitpun berkurang sedangkan kulit menjadi lebih kering, rapuh dan mudah rusak
7. Impaction (sulit buang air besar). Beberapa faktor yang mempermudah terjadinya ini adalah kurangnya gerakan fisik, makanan yang kurang mengandung serat, kurang minum, akibat obat-obat tertentu dan lain-lain.
Akibatnya, pengosongan isi usus menjadi sulit terjadi atau isi usus menjadi tertahan. Pada konstipasi, kotoran di dalam usus menjadi keras dan kering, dan pada keadaan yang berat dapat terjadi akibat yang lebih berat berupa penyumbatan pada usus disertai rasa sakit pada daerah perut.
7. Impaction (sulit buang air besar). Beberapa faktor yang mempermudah terjadinya ini adalah kurangnya gerakan fisik, makanan yang kurang mengandung serat, kurang minum, akibat obat-obat tertentu dan lain-lain.
Akibatnya, pengosongan isi usus menjadi sulit terjadi atau isi usus menjadi tertahan. Pada konstipasi, kotoran di dalam usus menjadi keras dan kering, dan pada keadaan yang berat dapat terjadi akibat yang lebih berat berupa penyumbatan pada usus disertai rasa sakit pada daerah perut.
8. Isolation (depresi), perubahan status sosial, bertambahnya penyakit dan berkurangnya kemandirian sosial serta perubahan-perubahan akibat proses menua menjadi salah satu pemicu munculnya depresi pada lansia.
Namun demikian, sering sekali gejala depresi menyertai penderita dengan penyakit-penyakit gangguan fisik, yang tidak dapat diketahui ataupun terpikirkan sebelumnya, karena gejala-gejala depresi yang muncul seringkali dianggap sebagai suatu bagian dari proses menua yang normal ataupun tidak khas.
Gejala-gejala depresi dapat berupa perasaan sedih, tidak bahagia, sering menangis, merasa kesepian, tidur terganggu, pikiran dan gerakan tubuh lamban, cepat lelah dan menurunnya aktivitas, tidak ada selera makan, berat badan berkurang, daya ingat berkurang, sulit untuk memusatkan pikiran dan perhatian, kurangnya minat, hilangnya kesenangan yang biasanya dinikmati, menyusahkan orang lain, merasa rendah diri, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, merasa bersalah dan tidak berguna, tidak ingin hidup lagi bahkan mau bunuh diri, dan gejala-gejala fisik lainnya.
Gejala ini dapat pula berupa depresi terselubung, yaitu yang timbul hanya gangguan fisik seperti sakit kepala, jantung berdebar-debar, nyeri pinggang, gangguan pencernaan dan lain-lain, sedangkan gangguan perasaan dan lain-lain tidak jelas.
9. Inanition (kurang gizi ), kekurangan gizi dapat disebabkan ketidaktahuan untuk memilih makanan yang bergizi. Terutama karena isolasi sosial (terasing dari masyarakat), gangguan pancaindera, kemiskinan, hidup seorang diri.
10. Impecunity (tidak punya uang), dengan semakin bertambahnya usia maka kemampuan fisik dan mental akan berkurang secara perlahan-lahan, yang menyebabkan ketidakmampuan tubuh dalam mengerjakan atau menyelesaikan pekerjaannya sehingga tidak dapat memperoleh penghasilan.
Untuk dapat menikmati masa tua yang bahagia kelak diperlukan paling sedikit tiga syarat, yaitu :memiliki uang yang diperlukan yang paling sedikit dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, memiliki tempat tinggal yang layak, mempunyai peranan di dalam menjalani masa tuanya.
10. Impecunity (tidak punya uang), dengan semakin bertambahnya usia maka kemampuan fisik dan mental akan berkurang secara perlahan-lahan, yang menyebabkan ketidakmampuan tubuh dalam mengerjakan atau menyelesaikan pekerjaannya sehingga tidak dapat memperoleh penghasilan.
Untuk dapat menikmati masa tua yang bahagia kelak diperlukan paling sedikit tiga syarat, yaitu :memiliki uang yang diperlukan yang paling sedikit dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, memiliki tempat tinggal yang layak, mempunyai peranan di dalam menjalani masa tuanya.
11. Iatrogenesis (menderita penyakit akibat obat-obatan), masalah yang sering terjadi adalah menderita penyakit lebih dari satu jenis sehingga membutuhkan obat yang banyak, apalagi penggunakan obat dalam jangka waktu yang lama tanpa pengawasan dokter. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya suatu penyakit akibat pemakaian berbagai macam obat.
12. Insomnia (gangguan tidur), berbagai keluhan gangguan tidur yang sering dilaporkan oleh para lansia, yakni sulit tidur, tidur tidak nyenyak, tidurnya banyak mimpi mudah terbangun, , jika terbangun sukar tidur kembali, terbangun dinihari, lesu setelah bangun dipagi hari.
13. Immune deficiency (daya tahan tubuh yang menurun), daya tahan tubuh yang menurun selain disebabkan karena proses menua, tetapi dapat pula karena berbagai keadaan seperti penyakit yang sudah lama atau baru diderita. Selain itu dapat juga disebabkan penggunaan berbagai obat, keadaan gizi yang kurang, penurunan fungsi organ-organ tubuh dan lain-lain.
13. Immune deficiency (daya tahan tubuh yang menurun), daya tahan tubuh yang menurun selain disebabkan karena proses menua, tetapi dapat pula karena berbagai keadaan seperti penyakit yang sudah lama atau baru diderita. Selain itu dapat juga disebabkan penggunaan berbagai obat, keadaan gizi yang kurang, penurunan fungsi organ-organ tubuh dan lain-lain.
14. Impotence (impotensi). merupakan ketidakmampuan untuk mencapai dan atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan sanggama yang memuaskan.
Penyebab disfungsi ereksi pada lansia adalah hambatan aliran darah ke dalam alat kelamin sebagai adanya kekakuan pada dinding pembuluh darah (arteriosklerosis) baik karena proses menua maupun penyakit, dan juga berkurangnya sel-sel otot polos yang terdapat pada alat kelamin serta berkurangnya kepekaan dari alat kelamin pria terhadap rangsangan.
Penyebab disfungsi ereksi pada lansia adalah hambatan aliran darah ke dalam alat kelamin sebagai adanya kekakuan pada dinding pembuluh darah (arteriosklerosis) baik karena proses menua maupun penyakit, dan juga berkurangnya sel-sel otot polos yang terdapat pada alat kelamin serta berkurangnya kepekaan dari alat kelamin pria terhadap rangsangan.
Osteoporosis Pada Lansia
Prof. dr. H. Armis, Sp. B, Sp. OT, FICS pada hari Senin, 18 Juli 2005 melakukan Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar pada Fakultas Kedokteran UGM di Balai Senat UGM.
Dalam pidato berjudul �Osteoporosis Pada Lansia: Tinjauan Dari Sudul Pandang Bedah Orthopaedi�, Prof. Armis mengungkapkan bahwa dalam meningkatkan perawatan pada penderita patah tulang osteoporosis yang harus dilakukan adalah: (i) hasil tindakan pembedahan harus diikuti penilaian yang tepat dengan standar perawatan. Patah tulang osteoporosis harus tercatat dan dimonitor seberapa besar permasalahannya.
Penilaian terapi akan berhasil guna apabila ada perencanaan yang memadai. (ii) dibutuhkannya metode penelitian untuk penatalaksanaan patah tulang terutama angka kejadian dan kesulitan pembedahan. (iii) kita membutuhkan perbaikan penatalaksanaan farmakologi dan penatalaksanaan umum untuk pencegahan primer maupun sekunder. Kita juga membutuhkan perkembangan teknik operasi nbaru atau teknik biologi seluler pada penyembuhan patah tulang osteoporosis. (iv) pendidikan tentang osteoporosis untuk ahli bedah orthopaedi dan dokter umum, karena sebagian besar dari mereka mempunyai pengetahuan yang kurang memadai mengena hal ini. �Oleh karena itu, dibutuhkan perbaikan dalam praktek mereka sebagai pelatihan berkelanjutan (postgraduate training). Sekarang ini di negara maju sedang diintensifkan penurunan angka kejadian patah tulang osteoporosis berikutnya serta pengembangan standar pelayanan,� jelas dosen Sub Bagian Bedah Orthopaedi FK UGM ini.
Sedangkan untuk pencegahan patah tulang osteoporosis berikutnya didasarkan pada tiga aspek yaitu: (i) Pengobatan osteoporosis, (ii) Mencegah jatuh, (iii) Menggunakan proteksi panggul (hip protector), (iv) Standar pelayanan harus sudah tersedia dan merupakan modal yang sangat berguna pada asosiasi ahli bedah orthopedi nasional sebagai rujukan pada ahli bedah orthopaedi nasiobal sebagai rujukan pada ahli bedah orthopaedi di daerah. Inggris sudah mempunyai standar pelayanan dengan judul �The Care of Fragility Fracture Patient� yang dicetak oleh The British Othopedic Association. �Yang terakhir, adalah pelayanan secara profesional dan perkembangan penggunaan standar pelayanan yang multidisipliner,� ungkap Anggota National Orthopedic Examinaton Board ini.
Prof. Armis juga menambahkan, dalam konsep patah tulang osteoporosis diperlukan perawat yang menguasai standar pelayanan sebagaimana di beberapa negara maju. �Setiap penderita osteoporosis yang telah menjalani perawatan dari rumah sakit perlu mendapat penjelasan mengenai pencegahan jatuh dan pertanyaan yang jelas seperti diagnosis osteoporosis, keparahan kondisi tersebut, kapan diperlukan pemeriksaan densitas tulang dengan DEXA dan waktu pemberian kalsium, vitamin D, olah raga dan resep obat untuk pengobatan osteoporosis tersebut,� tegas Ketua koordinator Blok X (sistem musculoskeletal) FK UGM ini. (Humas UGM)
Gangguan Masalah Mental pada Lansia Dapat Dicegah
Usia lansia bukan hanya dihadapkan pada permasalahan kesehatan jasmaniah saja, tapi juga permasalahan gangguan mental dalam menghadapi usia senja. Sejalan dengan semakin baiknya status kesehatan masyarakat, usia harapan hidup masyarakat Indonesia juga semakin tinggi, sehingga mengakibatkan jumlah lansia juga semakin bertambahUsia lansia bukan hanya dihadapkan pada permasalahan kesehatan jasmaniah saja, tapi juga permasalahan gangguan mental dalam menghadapi usia senja. Sejalan dengan semakin baiknya status kesehatan masyarakat, usia harapan hidup masyarakat Indonesia juga semakin tinggi, sehingga mengakibatkan jumlah lansia juga semakin bertambah.
Hal itu dikemukakan Dr Endah Ronawulan, SpKJ di Sela-sela seminar Mengenal Masalah Kesehatan Mental Pada Lansia yang diselenggarakan Nusantara Medical Center dalam rangkaian memperingati Hari Stroke Sedunia di Jakarta beberapa waktu lalu. Saat ini, jumlah lansia yang ada di Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik mencapai 18,7 juta orang (8,5%) dari jumlah penduduk Indonesia. Jumlah ini akan menjadikan Indonesia menempati urutan k-4 terbanyak negara berpolulasi lansia setelah Cina, India dan Amerika.
Setiap orang akan memiliki pandangan yang berbeda saat memasuki masa lanjut usia (lansia). Perbedaan tersebut banyak dipengaruhi oleh tipe kepribadian, genetika, sosial budaya, dan sebagainya. Ada beberapa pandangan negatif tentang lansia yang seakan memojokkan kaum lansia, yaitu lansia identik dengan kondisi lemah tidak berdaya, dan tidak mempunyai semangat hidup, serta mengalami penurunan fungsi otak.
Keadaan ini sebenarnya tidak perlu terjadi, karena akan membuat tubuh semakin rentan penyakit dan mempercepat proses penuaan. Karena itu sebaiknya masalah-masalah yang dapat menimbulkan stres atau kecemasan (masalah mental) diminimalisasi.
Berdasarkan Survei Kesehatan Depkes RI, menyatakan, gangguan mental pada usia 55-64 tahun mencapai 7,9%, sedangkan yang berusia di atas 65 tahun 12,3%. Angka ini diperkirakan akan semakin meningkat pada tahun-tahun mendatang. Karenannya pengenalan masalah mental sejak dini merupakan hal yang penting, sehingga beberapa gangguan masalah mental pada lansia dapat dicegah, dihilangkan atau dipulihkan.
Jika tidak didiagnosis dan diobati tepat waktu kondisi tersebut dapat mengalami perburukan dan membutuhkan penanganan yang kompleks. Kepandaian menyiasati dapat menjadikan masa tua yang menyenangkan, produktif dan energik tanpa harus merasa tua dan tidak berdaya.
Ada beberapa gangguan mental yang dialami para lansia diantaranya gangguan fungsi Kognitif, Dimensia, Apraksia, dan Gangguan orientasi. Fungsi Kognitif merupakan kemampuan seseorang untuk menerima, mengolah, menyimpan dan menggunakan kembali semua masukan sensorik secara baik. Fungsi kognitif terdiri dari unsur-unsur,memperhatikan (atensi), mengingat (memori), mengerti pembicaraan/berkomunikasi (bahasa), bergerak (motorik) dan merencanakan/melaksanakan keputusan (eksekutif).
Sedangkan gangguan fungsi kognitif dapat dibagi menjadi beberapa tahapan yaitu Age associated memori impraiment (AAMI) atau mudah lupa, kondisi ini dianggap normal dan biasanya dijumpai pada usia 55-60 tahun. Selain itu gangguan fungsi kognitif lain adalah minimal cognitive impraiment (MCI) atau gangguan kognitif ringan. Pada tahap ini dijumpai adanya gangguan fungsi berfikir dan fungsi mengingat.
Pada tingkat lanjutan, kata Endah, gangguan mental lainnya yang dialami lensia adalah Dimensia atau kepikunan. Pada tahap ini sudah terdapat gangguan daya ingat. Pasien umumnya sulit untuk mengingat hal-hal yang seharusnya mudah diingat. Dimensia umumnya akan dialami oleh lansia yang berumur di atas 80 tahun. Gejala dimensia meliputi gangguan daya ingat. Gejala awal yang dijumpai adalah gangguan memori yang baru (recent memori), sedangkan memori yang lama (remote memori) akan terganggu belakangan.
Pada tingkatan yang lebih tinggi, gangguan hubungan sosial juga sudah terganggu. Pada awalnya pasien tampak bingung dan tidak tahu apa yang harus dibicarakan dengan orang yang sedang dihadapi. Gangguan lain yang juga sering dihadapi lansia adalah gangguan dalam melakukan kegiatan tertentu (apraksia) dan gangguan orientasi. Pada tahapan ini pasien bahkan akan lupa dengan rumah dan bahkan kamar tidurnya sendiri.
Karena begitu beratnya beban yang dihadapi lansia, mereka bisa juga terkena depresi. Gejala ini terlihat pada awal gejala dimensia, di mana pasien tampak tak ada kemauan atau kehilangan minat melakukan aktivitas atau kegiatan, gelisah atau agitasi. Pada kondisi ini pasien menjadi mudah marah dan cepat tersinggung, bahkan kadang-kadang marah tanpa sebab yang jelas. RIS
Setiap orang akan memiliki pandangan yang berbeda saat memasuki masa lanjut usia (lansia). Perbedaan tersebut banyak dipengaruhi oleh tipe kepribadian, genetika, sosial budaya, dan sebagainya. Ada beberapa pandangan negatif tentang lansia yang seakan memojokkan kaum lansia, yaitu lansia identik dengan kondisi lemah tidak berdaya, dan tidak mempunyai semangat hidup, serta mengalami penurunan fungsi otak.
Keadaan ini sebenarnya tidak perlu terjadi, karena akan membuat tubuh semakin rentan penyakit dan mempercepat proses penuaan. Karena itu sebaiknya masalah-masalah yang dapat menimbulkan stres atau kecemasan (masalah mental) diminimalisasi.
Berdasarkan Survei Kesehatan Depkes RI, menyatakan, gangguan mental pada usia 55-64 tahun mencapai 7,9%, sedangkan yang berusia di atas 65 tahun 12,3%. Angka ini diperkirakan akan semakin meningkat pada tahun-tahun mendatang. Karenannya pengenalan masalah mental sejak dini merupakan hal yang penting, sehingga beberapa gangguan masalah mental pada lansia dapat dicegah, dihilangkan atau dipulihkan.
Jika tidak didiagnosis dan diobati tepat waktu kondisi tersebut dapat mengalami perburukan dan membutuhkan penanganan yang kompleks. Kepandaian menyiasati dapat menjadikan masa tua yang menyenangkan, produktif dan energik tanpa harus merasa tua dan tidak berdaya.
Ada beberapa gangguan mental yang dialami para lansia diantaranya gangguan fungsi Kognitif, Dimensia, Apraksia, dan Gangguan orientasi. Fungsi Kognitif merupakan kemampuan seseorang untuk menerima, mengolah, menyimpan dan menggunakan kembali semua masukan sensorik secara baik. Fungsi kognitif terdiri dari unsur-unsur,memperhatikan (atensi), mengingat (memori), mengerti pembicaraan/berkomunikasi (bahasa), bergerak (motorik) dan merencanakan/melaksanakan keputusan (eksekutif).
Sedangkan gangguan fungsi kognitif dapat dibagi menjadi beberapa tahapan yaitu Age associated memori impraiment (AAMI) atau mudah lupa, kondisi ini dianggap normal dan biasanya dijumpai pada usia 55-60 tahun. Selain itu gangguan fungsi kognitif lain adalah minimal cognitive impraiment (MCI) atau gangguan kognitif ringan. Pada tahap ini dijumpai adanya gangguan fungsi berfikir dan fungsi mengingat.
Pada tingkat lanjutan, kata Endah, gangguan mental lainnya yang dialami lensia adalah Dimensia atau kepikunan. Pada tahap ini sudah terdapat gangguan daya ingat. Pasien umumnya sulit untuk mengingat hal-hal yang seharusnya mudah diingat. Dimensia umumnya akan dialami oleh lansia yang berumur di atas 80 tahun. Gejala dimensia meliputi gangguan daya ingat. Gejala awal yang dijumpai adalah gangguan memori yang baru (recent memori), sedangkan memori yang lama (remote memori) akan terganggu belakangan.
Pada tingkatan yang lebih tinggi, gangguan hubungan sosial juga sudah terganggu. Pada awalnya pasien tampak bingung dan tidak tahu apa yang harus dibicarakan dengan orang yang sedang dihadapi. Gangguan lain yang juga sering dihadapi lansia adalah gangguan dalam melakukan kegiatan tertentu (apraksia) dan gangguan orientasi. Pada tahapan ini pasien bahkan akan lupa dengan rumah dan bahkan kamar tidurnya sendiri.
Karena begitu beratnya beban yang dihadapi lansia, mereka bisa juga terkena depresi. Gejala ini terlihat pada awal gejala dimensia, di mana pasien tampak tak ada kemauan atau kehilangan minat melakukan aktivitas atau kegiatan, gelisah atau agitasi. Pada kondisi ini pasien menjadi mudah marah dan cepat tersinggung, bahkan kadang-kadang marah tanpa sebab yang jelas. RIS
“21 NO” Bagi Lansia
Data dari Departemen Sosial RI menunjukkan angka sekitar 2,5 juta jumlah lansia yang terlantar dari jumlah sekitar 19,7 juta pada tahun 2008. Jumlah yang relatif tidak kecil yang membutuhkan perhatian serius, baik dari pemerintah maupun lembaga-lembaga non pemerintah.
Salah satu perhatian utama yang diperlukan adalah perhatian terhadap penyakit yang diderita. Selain pihak pemerintan dan non pemerintah, dipihak Lansia sendiripun perlu adanya upaya meningkatkan perhatian terhadap gejala-gejala timbulnya penyakit sendiri sebagai akibat menurunnya daya fisik maupun mental.
Upaya ini perlu juga dilakukan oleh anggota keluarga dimana manula bertempat tingggal. Apakah anaknya, anak menantunya atau cucunya. Sehingga dengan demikian kemungkinan keterlambatan penanganan atas penyakit yang diderita., bisa dicegah.
Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya penyakit akibat menua, berikut ini, suatu terapi yang dikenal dengan “21 NO (tidak)”, sebagai berikut:
1. No manis/No makanan/Minuman Bergula Banyak Apa Saja Nasi 5-7 sendok/No karbohidrat banyak
2. No asin/No Makanan Bergaram/No Ikan Asia Yang Banyak Sedikit garam/garam khusus
3. No Gorengan/No makanan Berlemak/Berminyak ‘1 Makanan pepes atau pindang (paling sehat)
4. No makanan keras atau Padat Makanan hams halus atau lunak/Makanan sayur itu baik
5. No Stress dan Depresi/Pikiran Harus Tenang Pikiran harus tenang/melalui Aktualisasi meditasi YOGA.
6. No Begadang/Melekan tanpa produktif Tidur yang teratur/nyenyak
7. No Fisik Badan/Tubuh Yang Kaku Olahraga Ringan Teratur setiap Hari (Olah raga jalan kaki)
8. No Lingkungan Silau Dinding Ruang Tidur Jangan Berwarna Putih/Silau
9. No Udara Cemar/polusi atau No Asap Lingkungan jangan berasap atau no rokok
10. No.Marah/Emosional Tinggi Jangan Kehilangan Kesadaran Diri
11. No Gelisah TTg Hidup dan Nasib Pasrah Akan Datangnya Kematian Harus Ada Religiusitas kepada Tuhan/Hyang Widhi
12. No Bengong/Melamun Kosong Harus tetap Suka membaca
13. No Harapan Pesimisme Tetap Bckerja produktif (DekerJa/menults, dll.)
14. No Pola Makan Rakus dan Serakah/No Greedy. Sadar Pola dan Makanan yang sehat/No Makan Terlalu Banyak
15. No Bekerja Keras Berlebihan Kalau merasa lelah harus berhenti dan istirahat
16. No Emosi Kesepian dan Merasa Terbuang Mencari hiburan atau kerja ringan produktif
17. No Malas Merawat Diri Sendiri Harus Bersedia Merawat Diri sendiri Mandiri Menjaga kebersihan tubuh
18. No Minuman Bcralkohol/No Narkoba/No Psikotropika. Banyak minum air sehat/putih/JUS BUAH MURNI.
19. No Berjudi Apa Saja dan Moral Buruk Mendorong lupa diri dan melakukan kekerasan/Kejahatan
20. No Minuman Coffein/No Krattindeng/No Vodga, dll. Tidak minum kopi yang padat yang membuat ketagihan/ketergantungan
21. No Rekreasi Yang Keras dan Berat Ikut Lomba Sepeda Besar/Panjat Tebing, dll. Rekreasi jalan lembah dan naik gunung disarankan.
2. No asin/No Makanan Bergaram/No Ikan Asia Yang Banyak Sedikit garam/garam khusus
3. No Gorengan/No makanan Berlemak/Berminyak ‘1 Makanan pepes atau pindang (paling sehat)
4. No makanan keras atau Padat Makanan hams halus atau lunak/Makanan sayur itu baik
5. No Stress dan Depresi/Pikiran Harus Tenang Pikiran harus tenang/melalui Aktualisasi meditasi YOGA.
6. No Begadang/Melekan tanpa produktif Tidur yang teratur/nyenyak
7. No Fisik Badan/Tubuh Yang Kaku Olahraga Ringan Teratur setiap Hari (Olah raga jalan kaki)
8. No Lingkungan Silau Dinding Ruang Tidur Jangan Berwarna Putih/Silau
9. No Udara Cemar/polusi atau No Asap Lingkungan jangan berasap atau no rokok
10. No.Marah/Emosional Tinggi Jangan Kehilangan Kesadaran Diri
11. No Gelisah TTg Hidup dan Nasib Pasrah Akan Datangnya Kematian Harus Ada Religiusitas kepada Tuhan/Hyang Widhi
12. No Bengong/Melamun Kosong Harus tetap Suka membaca
13. No Harapan Pesimisme Tetap Bckerja produktif (DekerJa/menults, dll.)
14. No Pola Makan Rakus dan Serakah/No Greedy. Sadar Pola dan Makanan yang sehat/No Makan Terlalu Banyak
15. No Bekerja Keras Berlebihan Kalau merasa lelah harus berhenti dan istirahat
16. No Emosi Kesepian dan Merasa Terbuang Mencari hiburan atau kerja ringan produktif
17. No Malas Merawat Diri Sendiri Harus Bersedia Merawat Diri sendiri Mandiri Menjaga kebersihan tubuh
18. No Minuman Bcralkohol/No Narkoba/No Psikotropika. Banyak minum air sehat/putih/JUS BUAH MURNI.
19. No Berjudi Apa Saja dan Moral Buruk Mendorong lupa diri dan melakukan kekerasan/Kejahatan
20. No Minuman Coffein/No Krattindeng/No Vodga, dll. Tidak minum kopi yang padat yang membuat ketagihan/ketergantungan
21. No Rekreasi Yang Keras dan Berat Ikut Lomba Sepeda Besar/Panjat Tebing, dll. Rekreasi jalan lembah dan naik gunung disarankan.
Dengan diterapkannya terapi “21 NO” tersebut, diharapkan para lansia bisa mengurangi bahkan meniadakan kemungkinan datangnya penyakit lansia secara tiba-tiba.
Sumber : Nyoman Naya Sujana
Forum Lembaga Lansia Indonesia (F-LLI)
Anggota Pokja Lansia BKKS Jatim.
Forum Lembaga Lansia Indonesia (F-LLI)
Anggota Pokja Lansia BKKS Jatim.
Label:
artikel
|
0
komentar
Lansia Rawan Diabetes dan Stroke
Lansia Rawan Diabetes dan Stroke – Bukan hal yang aneh, kalau orang berumur atau lanjut usia (lansia) biasanya menyimpan penyakit keras. Soalnya, seiring bertambahnya usia, daya tahan tubuh mereka semakin melemah.
Menurut Djoko Maryono, Dokter Spesialis Internis dan Kardiologis Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta, penyakit-penyakit yang biasanya menghinggapi lansia adalah diabetes, stroke, dan gangguan jantung koroner.
Penyakit diabetes melitus atau kencing manis menjadi salah satu penyakit yang sering merongrong. Ada empat tipe penyakit kencing manis ini. Diabetes tipe 1 yang terjadi karena masalah genetik. Tipe 2 karena pola hidup yang tidak sehat. Ketiga, tipe DM Gestasional yang terdapat pada ibu hamil. Terakhir, tipe diabetes yang tidak diketahui penyebabnya.
Jika dibiarkan, penyakit diabetes akan melebar ke penyakit lain. Contohnya, gangguan di daerah mata yang bisa mengakibatkan kebutaan atau gangguan di saraf yang bisa mengakibatkan stroke.
Djoko menganjurkan penderita diabetes mengonsumsi vitamin C. “Konsumsi 500 miligram (mg) sampai 1.000 mg per hari,” katanya. Vitamin C ini bisa mengikat vitamin dan mineral yang masuk ke dalam tubuh sehingga bisa diserap lebih baik oleh tubuh.
Jika seseorang menderita diabetes, banyak vitamin seperti B12, magnesium, dan zinc yang tidak diserap secara sempurna oleh tubuh. Padahal, vitamin ini mendukung daya tahan tubuh. “Itu sebabnya penderita diabetes mudah terkena infeksi,” kata Djoko.
Pakar Gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Sri Murni menyarankan penderita diabetes mengonsumsi makanan dengan kadar gula rendah. Sebaiknya pula, para lansia makan besar tiga kali sehari, dan mengemil sehat di antara jam-jam makan.
Selain diabetes, gangguan pembuluh darah atau kardiovaskular juga menjadi langganan para lansia. Contoh penyakit kardiovaskular ini adalah stroke dan gangguan jantung koroner. Gangguan pada pembuluh darah ini tidak terjadi serta merta. Biasanya, si penderita memiliki pola hidup yang tidak sehat. Peminum alkohol, pemilik kadar kolesterol tinggi dan kelebihan berat badan atau obesitas rentan terhadap serangan ini. Stroke terjadi karena penyempitan pembuluh darah otak sehingga mengganggu syaraf penderitanya.
Djoko menyarankan para penderita stroke mengonsumsi vitamin B yang berfungsi untuk menjaga pembuluh darah agar tetap lentur dan tidak menyempit. Vitamin B yang banyak mengandung folat bisa didapatkan pada kacang hijau, nasi merah, dan ketan hitam.
Begitu pula dengan penderita jantung koroner. Penderita jantung koroner yang sudah dipasang ring untuk mempertahankan pembuluh darah tetap terbuka pun ada kemungkinan pembuluh darahnya bisa menyempit lagi.
Dari hasil penelitian, jika lansia rutin mengonsumsi vitamin B, maka kemungkinan terjadi penyempitan pembuluh darah kembali lebih kecil jika dibandingkan dengan tidak mengonsumsi. “Kalau rutin mengonsumsi daya tahannya bisa lebih baik,” kata Djoko. (Sanny Cicilia Simbolon)
Editor: acandra Kompas.com | Sumber :KONTAN
Editor: acandra Kompas.com | Sumber :KONTAN
KATARAK
![]() |
| Add caption |
BABI
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Katarak merupakan penyakit mata yang sangat dikenal masyarakat pada saat ini. Katarak merupakan penyebab kebutaan utama di Indonesia. Umumnya katarak adalah penyakit lansia atau usia lanjut. Katarak juga dapat terjadi pada bayi ataupun usia muda. Terdapat beberapa kelainan yang sering dihubungkan dengan lansia seperti katarak, glaukoma, degenerasi makula dan proses yang sering terjadi seperti pengaruh penyakit kencing manis pada mata.
Katarak berasal dari bahasa Yunani catarcta yang berarti air terjun. Mungkin sekali karena pasien katarak seakan-akan melihat sesuatu seperti tertutup oleh air terjun didepan matanya. Seseorang dengan katarak akan melihat benda seperti ditutupi kabut
Jenis katarak yang paling sering ditemukan adalah katarak senilis dan katarak senilis ini merupakan proses degeneratif (kemunduran ). Perubahan yang terjadi bersamaan dengan presbiopi, tetapi disamping itu juga menjadi kuning warnanya dan keruh, yang akan mengganggu pembiasan cahaya.Walaupun disebut katarak senilis tetapi perubahan tadi dapat terjadi pada umur pertengahan, pada umur 70 tahun sebagian individu telah mengalami perubahan lensa walau mungkin hanya menyebabkan sedikit gangguan penglihatan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PATOLOGI ANATOMI
Lensa mata merupakan badan yang bening, bikonveks dengan ketebalan sekitar 5 mm dan berdiameter 9 mm pada orang dewasa. Permukaan lensa bagian posterior lebih melengkung dibanding bagian anterior. Kedua permukaan tersebut bertemu pada tepi lensa yang dinamakan equator. Lensa mempunyai kapsul yang bening dan pada equator difiksasi oleh Zonula Zinn pada badan sillia. Lensa pada orang dewasa terdiri atas bagian inti ( nukleus ) dan bagian tepi ( korteks ). Nukleus lebih keras dibanding korteks. Dengan bertambahnya umur, nukleus makin membesar sedang korteks makin menipis, sehingga akhirnya seluruh lensa mempunyai konsistensi nukleus. Fungsi lensa adalah untuk membias cahaya sehingga difokuskan pada retina. Peningkatan kekuatan pembiasan lensa disebut akomodasi.
Katarak mengakibatkan gangguan masuknya cahaya ke dalam bola mata atau retina yang akan mengakibatkan bayangan pada selaput jala atau retina menjadi kabur. Katarak dapat mulai dari nukleus, korteks dan subkapsularis lensa. Bila lensa mata kehilangan sifat beningnya atau kejernihannya maka penglihatan akan menjadi berkabut atau tidak sama sekali. Katarak akan menghalangi sinar masuk kedalam, sehingga terjadi penurunan tajam penglihatan.
( Ilyas, 1999)
B. DEFINISI
Katarak adalah kekeruhan ( bayangan seperti awan ) pada lensa tanpa nyeri yang berangsur – angsur penglihatan kabur dan akhirnya tidak dapat menerima cahaya.
( Long, B.C, 1996 : 259 )
Katarak adalah suatu keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa atau denaturasi protein lensa.
( Ilyas, 1998 : 84 )
Katarak adalah gangguan opasitas secara progresif pada lensa atau kapsul lensa, umumnya akibat dari proses penuaan yang terjadi pada semua orang lebih dari 65 tahun.( Doenges,M.2000 : 412 )
Katarak dalah penurunan progresif kejernihan lensa-lensa menjadi keruh atau berwarna abu-abu dan kertajaman penglihatan berkurang
( Corwin, 2000 : 219 )
C. KLASIFIKASI KATARAK :
1. Katarak Kongenital
Katarak yang mulai terjadi sebelum / segera setelah lahir dari plasenta bayi berusia kurang dari 1 tahun.
2. Katarak Juvenil
Yaitu katarak lembek dan terdapat pada orang muda yang mulai terbentuk pada usia kurang dari 9 tahun dan lebih dari 8 bulan.
3. Katarak Senilis
Yiatu semua kekeruhan yang terdapat pada usia diatas 50 tahun
4. Katarak Rubela
Rubela pada ibu dapat mengakibatkan katarak pada lensa, tedapat 2 bentuk kekeruhan yaitu kekeruhan sentral dengan perifer jernih seperti mutiara / kekeruhan diluar nuklear yaitu korteks anterior dan posterior / total.
5. Katarak Kondikata
Merupakan katarak akibat penyakit lain seperti radang dan proses degenerasi seperti ablasi retina, retinitis pigmetosa, glaukoma, tumor intraokuler, iskemia okuler, helersis anterior segmen, buttalmos akibat suatu trauma dan pasca bedah mata
6. Katarak Diabetikum
Merupakan katarak yang terjadi akibat penyakit diabetes melitus ( DM )
7. Katarak Sekunder
Katarak yang terjadi akibat terbentuknya jaringan fibrosa pada sisa lensa yang tertinggal, paling cepat keadaan ini terlihat sesudah 2 hari EKEK ( Ekstrasi Katarak Ekstra Kapsular )
D. ETIOLOGI
1. Fisik
2. Kimia
3. Usia
4. Penyakit predisposisi ( DM )
5. genetik dan gangguan perkembangan
6. Infeksi virus dimasa pertumbuhan janin
7. Perubahan degeneratif
8. Pajanan terhadap sinar matahari selama hidup
9. herediter dan predisposisi
10. Pajanan, radiasi dan obat tertentu
11. Proses penuaan
12. Radang menahun didalam bola mata
13. Sinar Ultraviolet B
14. Efek racun dari rokok
15. Alkohol
16. Kekurangan vitamin E
17. Pengguna obat tertentu ( misal Kortikosteroid )
18. Cedera mata karena pukulan keras, tusukan benda
( Ilyas, 1998 : 207 ; Corwin, 2000 : 219 )
E. MANIFESTASI KLINIS
o Pandangan kabur
o Photophobia
o Silau pada cahaya
o Monocular diplopia
o Dapat melihat dengan baik jika pupil mengalami dilatasi
o Lensa mata terlihat keruh
o Manik mata kelihatan putih / kekuning-kuningan
o Penglihatan pasien berangsur-angsur menurun tanpa disertai rasa sakit dan dapat berakhir dengan kebutaan
o Refleks merah tida terlihat pada pupil
o Gangguan mengendarai kenderaan pada malam hari Hipermetropi
o Lihat ganda
( I.Black, Joyce.M.1987 & Ilyas, 1997 )
F. PATOFISIOLOGI
Lensa normalnya bening ( transparan ) agar cahaya dapat melaluinya.Perubahan biokimia dapat terjadi dalam lensa, trauma juga dapat menyebabkan lensa menjadi keruh kemudian menghalangi cahaya yang masuk ke retina, katarak imatur merupakan perkembangan dari sebagian katarak pada kapsul lensa.
( Long, B.C, 1996 : 259 )
Proses normal ketuaan mengakibatkan lensa menjadi keruh dan keras.Keadaan ini disebut katarak senil, yang merupakan kelainan yang sering ditemukan. Katarak senil dapat terjadi mulai usia muda sekali pada usia 40 tahun. Bila katarak ditemukan pada anak-anak biasanya hal ini disebabkan kelainan bawaan / dapat juga disebabkan infeksi virus dan rubella pada ibu yang sedang hamil muda keadaan ini disebut sebagai katarak kongenital dan dapat terlihat pada saat bayi lahir.
Cedera mata dapat mengakibatkan katarak pada semua umur. Pukulan keras tembus, menyayat, panas tinggi / bahan kimia dapat mengakibatkan kerusakan lensa yang disebut katarak traumatik, beberapa penyakit tertentu seperti DM dapat mngakibatkan lensa menjadi keruh sehingga membentuk katarak komplikata
( Ilyas, 1997)
Karakteristik dari katarak adalah ditandai dengan penurunan O2 dan air meningkat yang diikuti dengan dehidrasi kemudian sodium dan kalsium meningkat, potasium dan protein menurun. Penurunan protein ini mempengaruhi perubahan warna pada lensa mata menjadi kekuningan / kekeruhan karena adanya perubahan komposisi dan molekul. Hal ini dapat dilihat dengan menggunakan radiasi ultraviolet.
Tahap Perkembangan katarak :
1. Immature Cataract
Pandangan menjadi agak buram dan bebrapa sinar diteruskan, penglihatan masih berfungsi
2. Matur Cataract
Pandangan seluruhnya buram, penglihatan menurun
3. Intumescent Cataract
Lensa mata berair, lensa mungkin mengalami imatur / matur dan kemungkinan adanya glaukoma.
4. Hipermature Cataract
Kemungkinan adanya phacolytic glaukoma ditandai dengan obstruksi dan penyerapan protein makrofag
( I. Black & joyce, M. 1987 : 849 )
G. PENATALAKSANAAN
Pengobatan katarak yang paling efektif hanya dengan pembedahan. Pembedahan katarak bertujuan untuk mengeluarkan lensa yang keruh. Ada 2 tipe pembedahan katarak, yaitu :
1. EKIK ( Ekstraksi Katarak Intra Kapsular )
Adalah mengeluarkan lensa dalam keadaan lensa utuh. Dilakukan dengan membuka / menyayat selaput bening dan memasukan alat melalui pupil, kemudian menarik lensa keluar. Seluruh lensa dengan pembungkus atau kapsulnya dikeluarkan dengan lidi ( probe ) beku ( dingin ). Pada operasi ini dibuat sayatan selaput bening yang cukup luas, jahitan yang banyak ( 14-15 mm ) sehingga penyembuhan lukanya memakan waktu yang lama.
2. EKEK ( Ekstraksi Katarak Intra Kapsular )
Isi lensa dikeluarkan setelah pembungkus depan dibuat lubang sedang pembungkus belakang ditinggalkan. Dengan tekhnik ini terdapat ruabg bebas ditempat bekas lensa sehingga memungkinkan menempatkanlensa pengganti yang disebut sebagai lensa tanam bilik mata belakan ( posterior chamber intraocular lens ). Dengan yekhnik ini sayatan lebih kecil ( 10-11 mm ), sedikit jahitan dan waktu penyembuhan lebih pendek.
( Ilyas, 1999 : 24-26 )
I. PERAWATAN PASCA BEDAH
Setelah pembedahan pasien segera diberi obat untuk mengurangi rasa sakit karena operasi katarak adalah suatu tindakan yang menyayat . Antibiotik diperlukan atas dasar kemungkinan terjadinya infeksi karena kebersihan yang tidak sempurna. Pasien diberi obat tetes mata steroid untuk mengurangi reaksi radang akibat tindakan bedah dan diberikan obat tetes mata yang mengandung antibiotik untuk mencegah infeksi. Mata selama 2-4 minggu setelah pembedahan perlu dilindungi sewaktu tidur untuk mencegah kecelakaan pada mata yang dibedah akibat garukan tangan pada mata tanpa disadari Akan dirasakan perbaikan penglihatan yang nyata pada hari berikut setelah pembedahan mata. Penyembuhan sempurna akan didapat setelah 4-5 minggu.
Tujuan Perawatan post operasi katarak adalah mencegah :
1. Peningkatan Tekanan Intra Okular ( TIO )
2. Tegangan pada jahitan
3. Perdarahan pada ruang anterior
4. Infeksi
Pendidikan kesehatan diperlukan untuk pasien post operasi katarak dan keluarga. Pendidikan kesehatan ini meliputi :
o Tanda dan gejala infeksi ( kemerahan, pandangan kabur, nyeri, bengkak, berair )
o Tanda dan gejala peningkatan TIO ( Nyeri, mual, pandangan menurun )
o Proteksi untuk mata ( kacamata )
o Pengobatan dan tekhnik menggunakan tetes mata
Terdapat beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada pasien post operasi katarak
Hal yang boleh dilakukan |
· Memakai dan meneteskan obat seperti yang dianjurkan · Memakai penutup mata seperti yang dinasihatkan · Melakukan pekerjaan yang tidak berat · Bila memakai tali sepatu jangan membungkuk akan tetapi kaki diangkat ke atas |
Hal yang tidak boleh dilakukan |
· Menggosok mata · Membungkuk terlalu dalam · Menggendong yang berat · Membaca berlebihan · Mengedan terlalu keras saat BAB · Berbaring ke sisi mata yang baru dibedah |
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN FOKUS
Pengkajian fokus pasien post operasi katarak adalah :
1. Aktivitas / istirahat
Gejala : perubahan aktivitas biasanya / hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan
2. Neurosensori
Gejala : gangguan penglihatan ( kabur / tak jelas ), sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat
Tanda : Tampak kecoklatan atau putih susu pada pupil, peningkatan air mata Doenges, M.E, 2000 : 412-413 )
Fokus pengkajian menurut Engram, 1999 yaitu :
3. kaji terhadap nyeri da mual
4. Periksa TTV
5. Periksa status pelindung mata
6. Kaji tingkat kesadaran
B. DIANOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Nyeri b.d terputusnya kontinuitas jaringan karena operasi katarak
Kriteria Hasil :
o Menyatakan nyeri hilang
o Menunjukkan postur tubuh rileks, kemampuan istirahat / tidur cukup
o Membedakan ketidaknyamanan bedah
Intervensi :
a. Dorong pasien untuk melaporkan tipe, lokasi dan intensitas nyeri, rentang skala 1-10
Rasionalisasi : Nyeri dirasakan, dimanifestasikan dan ditoleransi secara individual.
b. Pantau TTV
Rasionalisasi : Kecepatan jantung biasanya meningkat karena nyeri
c. Berikan tindakan kenyamanan
Rasionalisasi : meningkatkan relaksasi
d. Beritahu pasien bahwa wajar saja , meskipun lebih baik untuk meminta analgesik segera setelah ketidaknyamanan menjadi dilaporkan
Rasionalisasi : Danya nyeri menyebabkan tegangan otot yang menggangu sirkulasi memperlambat proses penyembuhan dan memperberat nyeri
e. Berikan obat sesuai indikasi
Rasionalisasi : Untuk mengontrol nyeri adekuat dan menurunkan tegangan
2. Resiko tinggi terhadap cidera b/dketerbatasan penglihatan, berada di lingkungan yang asing dan keterbatasan mobilitas dan perubahan kedalaman persepsi karena pelindung mata
Tujuan: Cidera tidak terjadi.
Kriteria hasil: Klien tidak mengalami cidera atau trauma jaringan selama dirawat.
Intervesi:
a. Orientasikan klien pada lingkungan ketika tiba.
Rasional: Pengenalan klien dengan lingkungan membantu mengurangi kecelakaan.
Rasional: Pengenalan klien dengan lingkungan membantu mengurangi kecelakaan.
b. Modifikasi lingkungan untuk menghilangkan kemungkinan bahaya.
· Singkirkan penghalang dari jalur berjalan.
· Singkirkan sedotan dari baki.
· Pastikan pintu dan laci tetap tertutup atau terbuka secara sempurna.
Rasional: Kehilangan atau gangguan penglihatan atau menggunakan pelindung mata juga apat mempengaruhi resiko cidera yang berasal dari gangguan ketajaman dan kedalaman persepsi.
c. Tinggikan pengaman tempat tidur. Letakkan benda dimana klien dapat melihat dan meraihnya tanpa klien menjangkau terlalu jauh
Rasional: Tinakan ini dapat membantu mengurangi resiko terjatuh.
d. Bantu klien dan keluarga mengevaluasi lingkungan rumah untuk kemungkinan bahaya.
· Karpet yang tersingkap.
· Kabel listrik yang terpapar.
· Perabot yang rendah
· Binatang peliharaan
· Tangga
Rasional: Perlunya untuk empertahankan lingkungan yang aman dilanjutkan setelah pulang.
2. Gangguan sensori visual b.d penerimaan sensori terganggu
Kriteria Hasil :
o Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu
o Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan
o Mengidentifikasi / memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan
Intervensi :
a. Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah salah satu atau kedua mata terlibat
Rasionalisasi :Kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab kehilangan terjadi lambat dan progresif
b. Oreintasikan pasien terhadap lingkungan, staf, orang lain di areanya
Rasionalisasi : Memberikan peningkatan kenyamanan dan kekeluargaan, menurunkan cemas dan disorientasi pasca operasi
c. Dorong orang terdekat tinggal dengan pasien
Rasionalisasi : Memnberikan rangsang sensori tepat terhadap isolasi dan menurunkan bingung.
d. Perhatikan tentang suram / penglihatan kabur dan iritasi mata, dimana dapat terjadi bila menggunakan tetes mata
Rasionalisasi : Gangguan penglihatan / iritasi dapat berakhir 1-2 jam setelah tetesan mata secara bertahap menurunkan dengan penggunaan
( Doenges,M.E, 2000 : 416 )
3. Resti Infeksi b.d prosedur invasif ( operasi katarak )
Kriteria Hasil :
o Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu, bebas drainase purulen, eritema dan demam.
o Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi
Intervensi :
a. Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh / mengobati mata
Rasionalisasi : Menurunkan jumlah bakteri pada tangan, mencegah kontaminasi area operasi
b. Gunakan / tunjukkan tekhnik yang tepat untuk membersihkan bola mata
Rasionalisasi : Tekhnik aseptik menurunkan resiko penyebaran bakteri dan kontaminasi silang
c. Tekankan pentingnya tidak menyentuh / menggaruk mata yang dioperasi
Rasionalisasi : Mencegah kontaminasi dan kerusakan sisi operasi
d. Berikan obat sesuai indikasi
Rasionalisasi : Digunakan untuk menurunkan inflamasi
( Doenges, M.E, 2000 : 415-416 )
4. Resti Cidera b.d penurunan koordinasi otak
Kriteria Hasil :
o Menyatakan pemahaman faktor yang terlibat dalam kemungkinan cedera
o Menunjukkan perubahan perilaku, pola hidup untuk menurunkan faktor resiko dan untuk melindungi diri dari cedera
o Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan
Intervensi :
a. Diskusikan apa yang terjadi pada pasca operasi tentang nyeri, pembatasan aktivitas penampilan, balutan mata
Rasionalisasi : Membantu mengurangi rasa takut dan meningkatkan kerja sama dalam pembatasan yang diperlukan
b. Beri pasien posisi bersandar, kepala tinggi, miring ke sisi yang tidak sakit sesuai keinginan
Rasionalisasi : Menurunkan tekanan pada mata yang sakit
c. Anjurkan menggunakan tekhnik manajemen stress
Rasionalisasi : Meningkatkan relaksasi dan koping, menurunkan TIO
d. Observasi pembengkakan luka, bilik anterior kempes pupil berbentuk buah pir
Rasionalisasi : Menunjukkan prolaps iris atau ruptur luka disebabkan oleh kerusakan jahitan / tekanan mata
e. Kolaborasi obat sesuai indikasi ( antiemetik, analgesik )
Rasionalisasi : Mencegah cedera okuler, meningkatkan istirahat dan mencegah gelisah
( Doenges,M.E, 2000 : 414-415)
5. Kurang pengetahuan b.d kurang informasi
Kriteria Hasil :
o Menyatakan pemahaman kondisi / proses penyakit dan pengobatan
o Melakukan dengan prosedur benar dan menjelaskan alasan tindakan
Intervensi :
a. Kaji informasi tentang kondisi individu, prognosis, tipe prosedur / lensa
Rasionalisasi : Meningkatkan pemahaman dan meningkatkan kerjasama dengan program pasca operasi
b. Tekankan pentingnya evaluasi perawatan rutin
Rasionalisasi : Pengawasan periodik menurunkan resiko komplikasi serius
c. Informasikan pasien untuk menghindari tetes mata yang dijual bebas
Rasionalisasi : Dapat bereaksi silang / campur dengan obat yang diberikan
d. Dorong aktivitas pengalih seperti mendengar radio, berbincang-bincang, menonton televisi
Rasionalisasi : Memberikan masukan sensori, mempertahankan rasa normalitas, melalui waktu lebih mudah bila tidak mampu menggunakan penglihatan secara penuh
( Doenges,M.E, 2000 : 421-423 )
DAFTAR PUSTAKA
Corwin . 2000. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta : EGC
Doenges, M.E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
Engram, B. 1999. Medikal Bedah. Jakarta : EGC
I.Black, Joyce.M. 1987. Luckmann & Sorensen’s edical Surgical Nursing : A Psychophysiologic. Philadelphia : W.B Saunders
Ilyas, Sidarta. 1998. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : FKUI
----------------. 1999. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : FKUI
----------------. 1999. Katarak. Jakarta : FKUI
----------------. 2002. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : CV Sagung Seto
Knight, J.F. 1998. Indera Prima. Bandung : Indonesian Publishing House
Long, B.C. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Bandung : YIAPKP
Langganan:
Postingan (Atom)
STIKES HANGTUAH SURABAYA
ANTONIUS CATUR S Skep., Ns





